Rabu, 06 Oktober 2021

MABIT, KEGIATAN RELIGIUS DAN BERMANFAAT SMK BANGUN BANGSA MANDIRI KANDANGHAUR


Tentunya sudah sering kita mendengar sekolah-sekolah mengadakan kegiatan Mabit. Ya Mabit, Malam Bina Iman dan Taqwa ini sudah tidak asing lagi bagi setiap sekolah. Sama halnya dengan SMK Bangun Bangsa Mandiri Kandanghaur, disetiap tahunnya SMK Bangun Bangsa Mandiri Kandanghaur menggelar kegiatan Mabit. Kegiatan yang melibatkan seluruh warga sekolah tersebut, bertujuan melatih fisik agar terbiasa untuk selalu taat kepada Allah SWT selain itu sebagai ajang intropeksi diri mengenai sikap dan perilaku kita selama ini kepada orang lain. Setelah itu, siswa akan termotivasi untuk memperbaiki diri sehingga bisa meningkatkan kualitas akhlaknya. Oleh karena itu sebagai pembentukan karakter keislaman, SMK Bangun Bangsa Mandiri Kandanghaur melalui Ekstrakurikuler Rohis yang berfokus dalam bidang keagamaan, mengadakan kegiatan mabit yang di fokuskan kepada seluruh siswa-siswi kelas X SMK BBM kandanghaur pada tanggal 25 September 2021 di mulai pkl. 17:00 WIB sampai selesai.




    Mabit tahun ini masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, antara lain shalat berjamaah, mengirim doa kepada alim ulama  yang telah wafat, membaca Surah Yasin bersama, mendengarkan morotal yang tahun ini dilantunkan oleh Ahmad Fauzan, selaku Wakil Ketua Rohis masa bakti 2020/ 2021, mendengarkan sambutan kepala SMK Bangun Bangsa Mandiri Kandanghaur Bpk. Hasan Haririe, S. Pd. I. dan menonton film perjuangan Nabi Muhammad SAW.






Kegiatan yang berlangsung selama satu hari satu malam itu,  sangat antusias di ikuti oleh  siswa-siswi SMK Bangun Bangsa Mandiri Kandanghaur, karena selain membentuk karakter keislaman, Mabit juga dimanfaatkan mereka sebagai  malam keakraban mengenal dekat satu sama lain.  

“Selain sebagai sarana  memperkuat iman dan islam kita, Mabit juga bertujuan mempererat tali  persaudaraan antar siswa. Terutama kelas X dan kelas XI selaku panitia, karena memang Mabit ini difokuskan untuk kelas X saja.” Terang Iik Candra selaku panitia Mabit tahun 2021.




Selain koordinasi panitia dengan peserta Mabit, ketertarikan siswa-siswi kelas X SMK Bangun Bangsa Mandiri Kandanghaur akan kegiatan Mabit ini mendukung kelancara acara tersebut. Seperti yang di ungkapkan oleh Wakil Ketua Rohis, Ahmad Fauzan. “Seluruh siswa-siswi Kelas X sangat tertarik dan atusias dengan diadakannya kegiatan Mabit ini, dan Alhamdulilah hal tersebut membuat kegiatan Mabit malam hari ini lancar tidak ada kendala. Hal tersebut juga tak luput dari kerjasam panitia Mabit dan dukungan bapak/ibu guru SMK Bangun Bangsa Mandiri Kandanghaur, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh team yang terlibat dalam acara ini”. Ungkapnya ketika diwawancari Redaksi Metaforasa.

Begitu juga yang disampaikan oleh Wira Setio Warsandi, peserta Mabit dari kelas X TKJ yang baru pertama mengikuti acara Mabit seperti ini “Koordinasi panitia Mabit dan peserta sangat baik. Sebelum kegiatan berlangsung, peserta terlebih dahulu diberikan surat izin orang tua, dimana didalamnya terdapat dua pilihan. Apakah orang tua mengizinkan atau tidak mengizinkan. Karena koordinasi yang sangat baik ini, alhamdulilah kegiatan Mabit berjalan dengan lancar.”

“Ya saya sudah tau banyak tentang kegiatan Mabit. Saya juga sangat tertarik mengikuti kegiatan Mabit. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di malam Mabit ini sangat bermanfaat. Terlebih materi yang disampaikan oleh Bpk. Kepala Sekolah.” Terang Ahfriya Nesa, siswa X Multimedia yang mengikuti Mabit malam itu.

 

Ditulis  Oleh: Kurniawati,  Az Zahra  Putri Nawa  Al. H., Sa’diyatus Sholihah, Rokenah, Ermawati, Dinda Dwi Atika dan Jepri Cahyadi.

SEPASANG SEPATU IMPIAN

Hai, namaku Aldo. Aku akan menceritakan kisah hidupku yang ingin mempunyai sepatu baru kayak teman – temanku, dan inilah ceritaku.

Saat itu, Hari Senin tepatnya di Jalan Mekar Sari Nomor 43 Jakarta di sebuah SMPN 45 Jakarta Selatan, aku berangkat dari rumah ke sekolah pukul 07:40 WIB. Sedikit terlambat. Alhasil, sesampainya disana aku dihukum oleh pak guru karena terlambat 40 menit. Pak guru menghukumku berdiri di depan tiang bendera. Saat itu jam belajar tengah berlangsung, namun sepasang mata melihatku dari jendela kelas, ya mata milik Kevin. Anak yang menyebalkan yang selalu mengejekku.

“Eh...liat deh si Aldo lagi duhukum!” Serunya membuat teman-teman lain menengok ke arahku. “Udah sepatunya kusam dekil nggak layak pakai ketinggalan lagi! Hahaha…!” Tambah Kevin sambil tertawa puas diikuti oleh tawa teman-teman lainnya.

Aku menarik nafas sedikit sesak mendengar perkataan Kevin dan tawa teman-temanku “Seandainya mereka merasakan menjadi diriku yang hidup susah, jangankan membeli sepatu untuk makan sehari-hari saja sangat susah…”

Selepas hukumanku berakhir, Kevin and The Genk-nya mendekatiku dengan gaya sinis dan sombongnya. “Hei dekil! Minggir! Sana,  tempatmu bukan disini tapi ditempat sampah!” Kata mereka memakiku dengan tawa terbahak-bahak. Aku hanya diam menahan dadaku yang sesak. Tapi tiba-tiba datang Risa, teman masa kecil sekaligus sahabat baikku.

 “Pergi kalian! sialan jangan ganggu Aldo!” Hardik Risa dengan suara keras.

 “Eits... ada ceweknya datang donk… cie pacarnyaa… hahaha!” Kata Kevil dengan ekspresi menyebalkan.

 “Mau gue ceweknya kek atau bukan kek, bukan urusan lo! Lo ganggu dia lagi gue laporin ke guru BK! Gue rekam kelakuan lo tadi”. Risa menunjukan layar handphonenya ke muka Kevin, membuat nyali Kevin menciut.

“Sialan! Ayo pergi!” Kevil pun mengajak teman-temannya pergi meninggalkan mereka berdua. “Kamu baik-baik saja kan do? nggak dia apa-apain sama mereka kan?” Tanya Risa khawatir melihat diriku dari atas sampai bawah.

Aku menggeleng pelan, namun tak terasa air mataku menetes.

Risa menepuk punggungku menenangkan. “Sudah tak apa, nanti kalau Kevil ganggu lagi kasih tau aku ya? Aku laporin dia ke guru BK”. Hibur Risa lembut.

“Iya, makasih ya Ris… tapi kayaknya Kevin ga bakal kapok ngeganggu aku.”

“Memangnya kamu buat salah sama dia?”

“Ngga, itu karena….” Aku tidak melanjutkan kata-kataku, mataku menunjuk ke bagian kakiku. Sepasang sepatu usang dan dekil yang ku kenakan.

Risa mengikuti arah pandangku. Memandangku iba.

 “Oh… karena itu. Udah gak usah dipikirkan, aku punya sepasang sepatu yang gak pernah aku pakai karena kebesaran. Mungkin kalau kamu pakai ukuran kakimu dan sepatu itu pas.” Kata Risa kembali menghiburku.

“Ah yang benar Ris?!”

“Iya, kenapa kamu ga pernah cerita… kita kan teman… nanti pulang sekolah kamu mampir ke rumahku, aku akan sudah membungkuskan sepatu itu karena memang aku sudah berniat memberikannya padamu.”

Wajahku berbinar penuh rasa senang. “Sekali lagi makasih ya Ris…” Ucapku penuh rasa senang sambil memeluk Risa hangat.

Esoknya, aku pergi ke sekolah memakai sepatu pemberian Risa. Modelnya sangat aku suka, benar-benar sepatu yang masih baru dan pas ku pakai. Sepatu impian ku selama ini. Aku benar-benar beruntung memiliki teman seperti Risa. Gadis pintar dan baik hati. Pantas saja di sekolah teman-teman sangat menyukai Risa. Risa tidak pernah memilih berteman dengan siapapun. Tidak seperti Kevin, yang hanya ingin berteman dengan anak-anak orang kaya di sekolah. Padahal, berteman dari melihat kebaikan hati itu lebih menyenangkan daripada melihat materi.

End.

Ditulis Oleh, Arlan Fadilah

Digubah oleh Akriz


BATIKKU

Batikku kamu memancarkan keindahan

Slendang batikmu melingkar didadaku

Kamu memiliki pesona yang indah

Batik kamu membuka mata masyarakat untuk melihat keindahanmu

Yang memiliki arti dan unsur tersendiri di setiap daerah

Batik...

Kamu warisan leluhur seni Karya

Kamu memiliki ciri khas yang berbeda

Betapa cantiknya kamu batik

Setiap garismu memiliki makna dan arti

Keindahanmu yang membuat kita tertarik

Garis-garis mu yang membuat kita tambah menyukai

Kamu batikku mencerminkan keunikan

---

Karya: Hermawati Ningsih

Apakah Kamu Tahu Batik?

Batik...

Apakah kamu tahu Batik?

Coretan karya Bangsa Indonesia

Beragam corak cantik

Bercerita lewat coraknya yang unik

Batik...

Motif dan corak yang kaya akan budaya Indonesia

Setiap daerah memiliki corak yang berbeda beda

Setiap corak dan motifnya memiliki makna tersendiri

Batik...

Warisan para leluhur bangsa

Yang amat berharga

Budaya Bangsa Indonesia

Yang harus kita lestarikan sampai batas usia

----

Karya: Shela Enjellika


Rabu, 01 September 2021

NAMANYA MBA DESI

Namaku Arlan. Memasuki bangku kuliah semester tiga, aku memutuskan pindah kuliah karena faktor biaya. Aku memilih universitas yang lebih murah dikarenakan tidak mau terlalu membebani orang tuaku. Aku pun tinggal di kos-kosan kecil, lumayan murah bagi mahasiswa perantauan sepertiku. Sebulan sekali orang tua ku mengirimkan uang melalui rekening untuk biaya kuliah dan keperluanku sehari-hari. Kehidupanku di bangku perkuliahan biasa-biasa saja tidak ada yang menarik. Namun semua berubah, hari itu... Hari Jum'at tanggal 2 Juli 2021, perhimpunan mahasiswa yang aku ikuti yang tidak bisa aku sebutkan namanya, mengadakan suatu kegiatan fakultas di malam hari. Aku yang merasa sebagai mahasiswa baru yang ingin lebih kenal dekat dengan yang lain memutuskan untuk ikut, karena ini kesempatan bagus untukku.

 Saat itu semuanya berjalan lancar-lancar saja. Sampai sesuatu mengusikku. Saat itu ketika aku sedang mencuci tangan di washtafel toilet fakultas tiba-tiba lampu toilet berkedap-kedip sendiri. Awalnya aku kira itu hanya korsleting listrik biasa atau akibat lampu yang sudah tua, namun pikiran tenang itu berubah semua ketika beberapa menit kemudian pintu toilet di belakangku terbanting sangat keras. Sontak aku meloncat shock, menoleh kanan kiri kalau-kalau ada orang. Kosong. Bulu kudukku berdiri. Dan benar saja, ketika aku membalikan badanku lagi melanjutkan mencuci tangan, sebuah bayangan hitam terbias pada cermin di depanku. Semakin ku perhatikan bayangan itu semakin jelas membentuk sebuah wajah seorang wanita dengan rambut panjang yang terurai, bergaun putih dan berlumuran darah. Aku mematung. Nafasku tercekat. Aku tidak bisa menggerakan badanku, kecuali kedua mataku yang berkedip-kedip mengekspresikan rasa takut. Sebisa mungkin aku merapal doa dalam hati. Setelah lebih semenit mematung, akhirnya aku bisa menggerakan badanku, dan hal itu tidak aku sia-siakan untuk lari keluar toilet. Sayup-sayup terdengar suara pintu toilet menggelubrak berkali-kali diiringin dengan tawa cekikikan khas kuntilanak.

“Aldiiii..... diiii.... Aallddiiiiiiiii.....!!!!” Aku berteriak memanggil Aldi yang terlihat di lorong fakultas menuju ruang kegiatan.

“Kamu kenapa?” Aldi mengerutkan keningnya, heran melihatku.

Nafasku tersengal, aku sedikit membungkukan badanku, mengatur nafas.

“Itu... i-tuu....di sana dii....ah ah...” Dengan badan yang masih gemetar, aku pelan-pelan mendikte kejadian beberapa menit yang lalu kepada Aldi.

“Apa??” Tanya Aldi penasaran “Tenang... tenang dulu tenang...” Aldi menepuk-nepuk pundakku pelan, berusaha menenangkanku.

“Aku... aku... ah disana di....”

“Oke oke... kita kesana dulu, kamu harus minum terlebih dahulu...” Aldi akhirnya memapahku menuju ruang kegiatan, beberapa anak heran melihat kami.

Setelah aku meneguk air minum dan sedikit tenang, Aldi dan yang lain menunggu ceritaku dengan ekspresi penasaran mereka.

“Jadi ada apa? Apa yang kamu lihat tadi?” Tanya Aldi pelan.

“Iya memangnya ada apa sampai kamu berkeringat dingin begitu?” Tanya Sella, gadis berkacamat minus yang memberiku minum.

Aku menghela nafa sebentar. “Tadi... karena toilet disebelah sini tidak ada air jadi aku ke toilet fakultas pojok sana untuk cuci tangan dan cuci muka. Tapi ternyata aku melihat hantu wanita dengan gaun penuh darah.” Terangku pelan-pelan sambil melihat satu persatu wajah serius teman-temanku.

“Serius Lan?” Tanya Aldi

Aku mengangguk mantap. “Iya, aku serius! Duarius malahan!” Tegasku dengan ekspresi serius.

“Jangan-jangan....”Sella tidak melanjutkan kata-katanya. Dia menatap Aldi dan teman-teman yang lain. Seperti saling mengerti dan tau hantu apa yang aku lihat.

“Sudah, tidak apa-apa Lan. Dia tidak akan mengganggu. Mungkin dia hanya ingin berkenalan dengamu. Karena kamu mahasiswa baru.”

“Kalian tau siapa hantu itu?” Tanyaku penasaran.

Hampir semua teman-temanku mengangguk mengiyakan.

“Hampir semua teman-teman fakultas kita pernah melihat hantu tersebut. Tapi dia tidak mengganggu. Hanya ingin berkenalan dengan kita.” Jelas Nanda.

“Jadi... hantu wanita itu adalah hantu Mba Desi yang bunuh diri 10 tahun lalu. Dia bunuh diri karena hamil di luar nikah dengan salah satu pegawai universitas ini. Karena pacarnya itu tidak mau bertanggungjawab dan memilih menikah dengan orang lain.” Terang Aldi memberikan penjelasan. “Jasadnya ditemukan menggantung oleh Pak Sarmin, tukang bersih-bersih dari fakultas sebelah.” Lanjutnya.

Aku mengangguk mengerti menyimak cerita Aldi.

“Jadi jangan takut Lan, dia tidak akan mengganggu kita kecuali kamu menyakiti wanita bahkan sampai menghamilinya ditambah kamu tidak mau bertanggungjawab. Hahaha!” Kata Nanda diiringi tawa pelan dari teman-teman.

Aku tersenyum lega karena tahu tidak akan diganggu hantu Desi itu kecuali mereka yang melakukan hal seperti yang dikatakan Nanda barusan.

        Keesokan harinya, kami pun pulang ke rumah masing-masing karena sudah menyelesaikan kegiatan kami. Aku menoleh sebentar ketika melewati lorong dimana toilet “Mba Desi” berada. Samar terlihat sosok Mba Desi berdiri di samping pintu masuk, kali ini gaunnya terlihat bersih dan tersenyum tipis ke arahku.

Penulis, Arlan Fadilah

Penyunting, Akriz

CINTA TIDAK SEINDAH PANTAI

Pantai yang indah 

Pepohonan yang cantik

Suara perahu terdengar di telinga 

Ombak yang selalu mendekat dan menjauh

Seperti kamu yang selalu mendekat dan menjauh

Kadang cinta tak seindah pantai

Kadang gombalan tak secantik pepohonan

Kamu mendekati saya dengan beribu gombalan

Dan kamu meninggalkan dengan beribu alasan

Itu yang di namakan cinta ?

Bukanya cinta hanyalah rasa

Rasa yang bisa hilang ...

Cinta itu tidak harus memiliki bukan

Pantai saja tidak harus memiliki perahu 

Tapi...

Pantai bekerja sama dengan perahu 

Agar pantai terlihat indah 

Seperti halnya cinta

Cinta bekerja sama dengan rasa sayang dan setia 

Agar cinta tidak menghilang begitu saja


Karya, Hermawati Ningsih

UNTAIAN KATA

Aku terjatuh dalam kubangan itu

Sebuah kasih yang sempat aliri diri

Perasaan saling mengasihi

Dalam kepingan hati besi

Namun, semua telah temui sisi sunyi

Saat kau pergi tinggalkan diri

Di mana janji yang kau untai

Tuk arungi kisah yang kian lunglai

Kau hanya pembohong keji

Dengan kata sembunyikan arti

Janji itu telah berakhir

Tertusuk mawar berduri itu

Yang kau balut begitu rapi

Hingga aku sadari kini

Cintamu hanyalah sunyi


Ditulis Oleh, Yesa Agista

Penyunting, Khofifah